Sekolah Alam Bogor

3rd March 2009

Disiplin berbasis kesadaran Share

Kisah ini terjadi saat akhir tahun ajaran yang lalu. The Jungle Water Park, berganti menjadi human park, ribuan orang memenuhi area tersebut. Benar-benar di luar perkiraan. Diantaranya sedang mengantri 148 siswa dan fasilitator Sekolah Alam Bogor. Saya sebagai Korlap saat itu membariskan mereka dan bertanya pada mereka: “Apakah temen-teman tetap mau masuk atau pulang dan mencari tempat lain?” Serempak seluruh siswa menjawab “Masuuuk!” pertanyaan diulang sampai lima kali. Jawaban yang sama muncul serentak. Saya ungkapkan resiko terjepit, tehimpit, dan terpisah dari rombongan. Tapi lalu saya sampaikan resiko bisa diminimalkan dengan berdisiplin. Hanya ada 3 aturan yang harus diingat : Berbaris tanpa terputus saat masuk, tetap berkelompok saat bermain, dan segera kembali ke tempat yang disepakati begitu ada pengumuman.

Tanpa komando lagi anak-anak berbaris rapi dalam dua barisan. Mereka berpegangan dan berjalan ke pintu masuk. Tak ada yang terputus. Bahkan saat ada orang dewasa lain mencoba memutus barisan itu, mereka bertahan walau harus berdebat dengan mereka. “Ibu silahkan memutar ke belakang, barisan kami tidak boleh terputus bu!” kata salah seorang siswa kepada ibu yang memaksa masuk. Saya hanya bisa mengacungkan kedua jempol buat mereka.

Di dalam Water Park seluruh siswa menikmati permainan. Saya berkeliling mengawasi anak-anak. Ternyata aturan kedua masih berlaku, mereka bermain berkelompok. Saya merasa sangat lega.

Siang hari saya mengumumkan bahwa saat bermain sudah berakhir dan mereka harus bersiap pulang. Pengumuman dilakukan lebih awal, karena menurut info berdasarkan pengalaman sebelumnya butuh waktu 1,5 - 2 jam untuk mengumpulkan anak-anak yang sedang bermain. Tapi Subhanallah diluar dugaan, kurang dari setengah jam seluruh siswa sudah berganti baju dan berbaris rapi untuk keluar dari arena. Padahal pengumuman tentang anak yang hilang dan tertinggal dari sekolah lain terus kami dengar lewat pengeras suara.

Saya tercengang dan mengucap syukur. Hal seperti ini memang telah berkali-kali terjadi pada kami. Beberapa kali melakukan kegiatan di keramaian beberapa kali pula kami harus memuji kemampuan anak-anak Sekolah Alam dalam berdisiplin dan mentaati aturan yang disepakati. Di terminal Baranang Siang, di Botani Square, di Swalayan, di Penangkapan dan pasar ikan Pelabuhan Ratu dan diberbagai tempat ramai lainnya, anak sekolah Alam mampu menunjukkan jati diri mereka. Semua itu menjawab banyak keraguan terhadap mereka. Banyak yang menyangka model pendidikan di Sekolah Alam akan membuat mereka menjadi anak yang liar, tidak sopan dan tidak bisa disiplin

Peristiwa di The Jungle Water Park, disamping meninggalkan kekesalan terhadap pengelola Waterpark yang tidak membatasi pengunjang, di sisi lain menambah keyakinan kami bahwa anak-anak Sekolah Alam adalah anak yang mampu beradaptasi dengan berbagai keadaan dan mereka adalah anak-anak yang bisa berdisiplin dan taat terhadap aturan. Dan ini juga menambah keyakinan bahwa cara kami menerapkan aturan dan disiplin mulai menunjukkan hasil, walaupun pasti masih banyak kekurangan.

Kami mencoba memberikan pola lain dalam membangun kedisiplinan. Kami lebih memilih berdiskusi dan membuat kesepakatani daripada memaksakan. Kami lebih memilih membangun kesadaran akan resiko, manfaat dari dilanggar dan diterapkannnya aturan dibanding membangun ketakutan. Kami lebih memilih membangun kesadaran akan pengawasan Illahi walaupun membutuhkan proses pemahaman yang lebih lama dibanding membangun ketakutan karena diawasi guru, mungkin dalam waktu lebih singkat mereka tampak disiplin tapi kami khawatir itu hanya sesaat. Dan kami mulai bisa memetik sebagian buahnya. Mudah-mudahan kami bisa menanam dan memupuknya dengan lebih baik sehingga muncul buah-buah yang lebih baik pula. Wallohu a’lam (Yasir)

posted in Uncategorized | 1 Comment